Thursday, October 22, 2009

FROM INDONESIAN INDEPENDENCE DAY ANNIVERSARY 2009 IN TANJUNGPINANG

Posing with First Admiral Mohamad Sri Darojatim, Commander of Tanjungpinang Naval Base after the flag rising ceremony at the Governor House.





























Read the rest of the story?

Wednesday, October 7, 2009

YUK IKUT PESTA DI DANAU TOBA



MEDAN, KOMPAS.com — Hajatan budaya dan pariwisata bertajuk “Pesta Danau Toba 2009” akan digelar di Danau Toba, Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, mulai Rabu (7/10) besok hingga Minggu (11/10). Acara ini diharapkan dapat mendongkrak citra pariwisata Sumatera Utara.

"Target utama kita adalah mendongkrak citra pariwisata Sumut di mata dunia bahwa daerah kita ini aman dan nyaman untuk dikunjungi," ujar Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Sumut Nurlisa Ginting, di Medan, Senin (5/10).

Pesta Danau Toba akan menampilkan berbagai atraksi budaya, di samping juga akan menggelar berbagai ajang olahraga tradisional. Dalam ajang ini akan tampil, antara lain, pagelaran tari dan kostum tradisional, pagelaran tari khas Batak yakni tari tor-tor serta sejumlah perlombaan, seperti lomba memancing dan berenang di Danau Toba.

"Juga akan ada lomba vokal grup dengan membawakan lagu-lagu daerah dan banyak kegiatan lain, termasuk penampilan atraksi budaya dari sejumlah daerah lain di luar Sumut, yang pada akhirnya diharapkan mampu menarik minat wisatawan menghadirinya," katanya.

Ia juga mengatakan, pihak penyelenggara juga sudah menggencarkan promosi melalui berbagai media massa, baik media cetak maupun elektronik, termasuk stasiun televisi nasional. Dinas Budaya dan Pariwisata sendiri juga telah membuat berbagai brosur yang kemudian dibagikan ke sejumlah negara. "Harapan kita pada tahun-tahun mendatang wisatawan mancanegara dapat memprogramkan liburan mereka ke Sumut," katanya.

Persiapan

Humas Panitia Pesta Danau Toba 2009 Erlin Hasibuan mengatakan, persiapan kegiatan itu kini sudah mencapai 80 persen, terlebih segala fasilitas dan infrastruktur lainnya telah dipersiapkan dengan baik.

"Berbagai fasilitas yang menunjang kegiatan telah kita persiapkan, mulai dari fasilitas perlombaan, keamanan, dan kesehatan serta tugas lainnya," katanya.

Untuk memeriahkan kegiatan itu, Disbudpar Sumut juga telah mengimbau Pemkab Simalungun, Toba Samosir, Simalungun, Humbang Hasundutan, Taput, Karo, dan Dairi untuk mengerahkan massa sebanyak-banyaknya.

Rangkaian kegiatan perlombaan juga telah dipersiapkan dengan baik, bahkan kontingen dari berbagai daerah di dalam dan luar Sumut, seperti Lampung, Jawa Timur, Aceh, Papua, dan Kalimantan, telah menyatakan kesediaannya untuk datang.

Kegiatan yang bertema "Menggairahkan Kepariwisataan Sumatera Utara dalam upaya meningkatkan perekonomian daerah" itu dirancang untuk menonjolkan kebudayaan lokal serta pemberdayaan potensi ekonomi daerah yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat setempat.

Kegiatan itu rencananya akan dibuka secara resmi oleh Gubernur Sumatera Utara dan Sekretaris Jenderal Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

MBK Sumber : Antara

Read the rest of the story?

Thursday, July 9, 2009

INDONESIA ELECTS PRESIDENT SUSILO BAMBANG YUDHOYONO FOR SECOND TERM

Indonesian first family posing after casting their vote in Bogor yesterday (left to right): Eddy Baskoro (president second son), President Yudhoyono, Mrs. Ani Yudhoyono and their daughter in law Anissa Pohan.

Vox populi vox Dei.

Indonesian people have made it very clear during the presidential election yesterday, 8 July 2009. They want President Susilo Bambang Yudhoyono to continue to lead Indonesia for second term of his Presidency 2009 until 2014.

Based on Indonesian constitution, a person can only be elected president maximum for 2 terms of 5 years each. Yudhoyono was first elected as Indonesian President in 2004 defeated Mrs. Megawati Sukarnoputeri, the then Indonesian president.

Based on the quick counts conducted by more than 5 polster companies right after most polling stations closed, more than 60% of Indonesian voted President Susilo Bambang Yudhoyono and Boediono, 27% voted Megawati Prabowo and the remaining 13% voted Jusuf Kalla and Wiranto.

The official count is expected to be completed by end of this month. But the official ballot counting is predicted to confirm the quick count result.

Despite irregularities allegation from Megawati - Prabowo and Jusuf Kalla - Wiranto camp, the second direct presidential election held in Indonesia yesterday was reported run generally smooth and without report on violence.

Congratulation, Proficiat, Selamat for President Susilo Bambang Yudhoyono and his running mate Dr. Boediono.

I wish them all the best.

Hail Indonesia....

Read the rest of the story?

Monday, July 6, 2009

SUPPORT MEGAWATI SUKARNOPUTERI TO LEAD THE NATION AGAIN


The time is up for Susilo Bambang Yudhoyono.

He has failed to deliver his presidential campaign in 2004. The economy is worsen today than when he took office. Unemployment rate keep increasing, basic commodities prices soaring, fuel price more than double compared to 5 years ago and university tuition fees are tremendously expensive. Now less student can afford to enter University compared to 10 years ago.

It's now the time for Megawati Sukarnoputri to lead the country again.

She is the true secular nationalist and champion for human rights and in maintaining Pancasila as the nation ideology. Together with Lt. General Prabowo Subianto as her running mate, she will turn the country into new era with prosperity and dignity of the nation among other nations.

Join me to support Megawati Sukarnoputeri for Indonesian next president.

Vote for Megawati and Prabowo Subianto on 8 July 2009.

Petrus Marulak Sitohang


Read the rest of the story?

Thursday, June 18, 2009

INTRODUCING PATRICK TO GOLF COURSE

My eldest son Patrick and I at Bintan Lagoon Golf Course, 21 May 2009

Read the rest of the story?

Wednesday, May 20, 2009

PEMILU PRESIDEN 2009, SEBUAH PROLOG










Oleh: Petrus M. Sitohang

Lahirnya tiga pasangan calon Presiden dan wakil presiden yang maju ke pemilihan presiden tanggal 9 Juli 2009 nanti mengejutkan banyak orang tidak terkecuali saya. Sebagaimana kita semua tahu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memutuskan untuk berpasangan dengan Dr. Boediono, seorang guru Ilmu Ekonomi yang terkemuka dari Universitas Gajah Mada dan sangat dihormati karena rekam jejaknya yang sukses dalam hampir semua pos-pos di bidang Ekonomi dan Moneter dalam dua kabinet Indonesia terakhir yang dijalaninya termasuk menjadi Menteri Keuangan, Menko Perekonomian dan sekarang menjadi Gubernur Bank Sentral.

Sebelumnya Wakil Presiden Jusuf Kalla telah lebih dulu berhasil menggandeng Jenderal purnawirawan mantan Panglima ABRI dan Menko Polkam Wiranto untuk mendampinginya sebagai calon wakil presiden. Terakhir Megawati dan Letnan Jenderal purnawirawan dan mantan komandan pasukan elit Indonesia Kopassu dan mantan Panglima Kostrad Prabowo Subianto sepakat maju berpasangan sebagai calon presiden dan wakil presiden.

Tadinya saya memperkirakan SBY akan kembali maju bersama dengan Jusuf Kalla. Banyak peramal dan pengamat juga memperkirakan pasangan ini akan tetap bersama-sama dan dengan mudah memenangkan kembali tiket kedua dalam pemilu presiden yang akan datang siapapun lawan yang akan dihadapi.

Namun ketika SBY memberikan sinyal bahwa dia tidak akan berpasangan dengan Jusuf Kalla feeling saya mengatakan dia akan menggandeng salah satu calon wakil presiden dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) atau salah satu partai politik berbasis Islam lainnya untuk memastikan dukungan dari basis massa Islam yang sangat besar itu.

Ini masuk akal pemilih awam seperti saya. Apalagi sejak awal setelah pemilu legislatif berakhir PKS melalui Presidennya Tifatul Sembiring sudah memberikan endorsement kepada SBY untuk maju menjadi calon presiden. Publik dapat membaca bahwa endorsement PKS yang sangat awal ini adalah bagian dari lobby PKS untuk menggolkan salah satu kadernya menjadi calon presiden SBY yaitu Ketua MPR Hidayat Nur Wahid atau Tifatul Sembiring.

Kalaupun SBY tidak berkenan dengan calon dari PKS, prediksi saya sebelumnya SBY akan memilih satu dari kandidat partai-partai berbasis Islam lainnya seperti Hatta Rajasa yang dicalonkan Partai Amanat Nasional yang secara de facto dipimpin oleh pendirinya Amin Rais atau Muhaimin Iskandar Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) atau Suryadharma Ali Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Prediksi saya ini didasarkan bahwa calon-calon wapres dari salah satu partai politik Islam itu akan membantu Yodhoyono meraih banyak suara dari kantong-kantong massa pemilih Islam.

Ternyata SBY meruntuhkan prediksi saya dan prediksi banyak peramal dan pengamat. Dia ternyata memilih Dr. Boediono, seorang yang hingga awal tahun ini tidak masuk dalam perbincangan politik di negeri ini akan menjadi calon wakil presiden yang serius. SBY bahkan pasang badan menghadapi protes keras dari PKS dan PAN yang dikomandani Amin Rais yang menyesalkan keputusan SBY memilih Boediono sebagai calon Wapres dan bukannya salah seorang dari kalangan partai politik anggota koalisinya. Amin Rais bahkan menuduh Boediono akan menjadi beban bagi SBY dalam pemilu yang datang karena dia menilai Boediono sebagai jawara ekonomi neoliberal yang menurut Amin Rais telah menggadaikan Indonesia kepada kekuatan asing seperti sekarang ini. Menghadapi protes keras Amin Rais yang adalah seorang guru besar Ilmu Politik di Universitas Gajah Mada yang telah terbukti merupakan salah seorang politisi paling ulung yang pernah di miliki bangsa ini, SBY ternyata tidak mundur selangkahpun. Sebuah sikap yang selama ini jarang dipertunjukkan SBY.

Pasangan Jusuf Kalla dan Wiranto tidak kurang mengejutkan. Karena Jusuf Kalla adalah satu-satunya calon presiden yang bukan orang Jawa. Meski tidak dilarang Undang Undang Dasar, selama ini Presiden Indonesia selalu berasal dari suku Jawa. Hal ini masuk akan karena lebih dari 60% penduduk Indonesia adalah orang Jawa. Bahkan pada suatu ketika Jusuf Kalla pernah dikutip mengatakan bahwa dia tidak akan mencalonkan diri sebagai Presiden Indonesia karena sadar dia bukan orang Jawa. Selama ini Golkar tidak pernah mencalonkan bukan orang Jawa menjadi presiden Indonesia. Dalam Pemilu presiden tahun 2004 konvensi Partai Golkar justru mencalonkan Wiranto sebagai Presiden berpasangan dengan Solahuddin Wahid yang dikalahkan oleh pasangan SBY dan Jusuf Kalla.

Maka ketika akhirnya Jusuf Kalla memutuskan akan maju menjadi calon Presiden berpasangan dengan Ketua Umum Partai Hanura Wiranto tak pelak dia telah memelopori upaya menembus tabu politik di negara ini melalui salah satu Partai politik terbesar yaitu Golkar yang dipercaya mempunyai mesin politik yang bekerja sangat baik dan dukungan danan yang besar.

Pasangan Megawati Prabowo tidak kurang mengejutkan. Meskipun kedua partai ini mempunyai platform yang sama yaitu nasionalis sekuler, proses negosiasi keduanya sangat panjang dan melelahkan. Setidaknya itu saya dan beberapa teman pengamat lain alami.

Pada awalnya Partai Golkar, PDIP, Partai Gerindra, Partai Hanura, PPP dan beberapa partai-partai politik non parlemen lainnya telah sepakat untuk membentuk koalisi besar. Tetapi rupanya negosiasi di antara mereka untuk memutuskan kandidat calon presiden dan wakil presiden tidak berhasil mencapai kata sepakat. Dari semua partai-partai itu Partai Golkar adalah yang terbesar dengan 107 kursi di DPR diikuti oleh PDIP dengan 95 kursi, Gerindra 26 kursi dan Hanura 18 kursi.

Di atas kertas Golkar merasa paling layak untuk memajukan calonnya sebagai Presiden diikuti calon PDIP sebagai Wakil Presiden. Tapi massa akar rumput dan pendukung setia PDIP bersikukuh untuk mendesak Megawati sebagai calon presiden. Lagipula PDIP sudah jauh-jauh hari dalam kongres dan rakernas terakhirnya di Solo memutuskan akan mencalonkan Megawati sebagai Presiden.

Keputusan Kongres partai seperti itu teorinya hanya bisa dianulir oleh kongres dan tidak bisa dikalahkan oleh tawaran kursi kabinet dari partai-partai lain termasuk dari SBY yang selama tiga minggu sebelum batas akhir pengajuan calon ke Komisi Pemilihan Umum menugaskan Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa untuk menjadi penghubung dengan elite-elite PDIP. Peta politik Indonesia sempat disuguhi kejutan dengan manuver yang dilakukan Yodhoyono untuk mendekati PDIP yang selama lima tahun terakhir selalu berhadap-hadapan dalam banyak issue di pemerintahan maupun DPR. Oleh karena itu ada yang mengistilahkan manuver ini sebagai strategi ”putar arah” atau ”angin balik” Partai Demokrat yang tujuannya adalah untuk merangkul sebanyak mungkin kekuatan politik guna memuluskan usaha SBY untuk memenangi pemilihan presiden yang akan datang.

Tetapi bagi PDIP nampaknya tidak ada jalan keluar yang aman kecuali mengajukan calon poresiden sendiri meskipun Golkar meraih suara yang lebih besar, dan telah memutuskan untuk memajukan Jusuf Kalla sebagai calon presiden berpasangan dengan Wiranto.

Yang menjadi harapan PDIP satu-satunya untuk dapat meloloskan Megawati sebagai calon presiden adalah berkoalisi dengan Prabowo yang oleh banyak pendukungnya dijuluki sebagai Sukarno kecil. Masalahnya ialah Gerindra sangat kukuh menginginkan koalisi PDIP Gerindra mengajukan Prabowo menjadi calon presiden dengan calon wakil presiden dari PDIP. Sempat beredar nama Puan Maharani, puteri Megawati sebagai kandidat calon Wakil Presiden mendampingin Prabowo Subianto. Di banyak kalangan Gerindra dan sebagian elit PDIP sempat beredar prediksi bahwa Megawati yang sudah kalah dua kali dalam kontes pemilihan presiden sebelum ini tidak mempunyai peluang untuk mengalahkan SBY yang dianggap sebagai saingan terberat. Sedangkan Prabowo diperkirakan akan menjadi satu-satunya penantang yang paling potensial yang dapat mengalahkan SBY. Tidak jelas bagi saya darimana dasar perhitungan semacam itu. Meski saya harus mengakui kinerja Prabowo membangun Gerindra dengan kampanyenya yang menarik dan berhasil membawa partainya lolos parliamentary treshold memang patut diacungi jempol.

Drama yang berlangsung berbulan-bulan sejak pemilu legislatif akhirnya berakhir tanggal 15 Mei 2009 di nihari ketika Megawati dengan Prabowo akhirnya sepakat untuk maju sebagai calon Presiden dan Wakil Presiden RI yang akan bertarung menghadapi pasangan SB SBY dengan Dr. Boediono serta pasangan Jusuf Kalla dengan Wiranto dalam pemilihan umum presiden tanggal 9 Juli 2009 yang akan datang.

Sekarang saya akan dihadapkan pada tiga pilihan yang sulit... karena ketiga pasangan ini saya sukai. Ketiganya memiliki kekuatan dan juga kelemahannya sendiri-sendiri.

Tetapi satu hal yang membanggakan saya, menurut saya ketiga pasangan ini adalah anak-anak bangsa dengan kadar nasionalisme yang sangat saya banggakan. Saya belum pernah sebahagia ini menunggu hari pemilihan itu tiba. Karena siapapun pemenangnya akan membuat saya bangga sebagai bangsa Indonesia.

Read the rest of the story?

PEMILU LEGISLATIF 2009 SEBUAH SUKSES

Oleh: Petrus M. Sitohang

Indonesia baru saja sukses melangsungkan Pemilu Legislatif yang ketiga sejak era reformasi. Era yang dianggap banyak orang sebagai awal kebangkitan dan pembentukan kembali demokrasi khas ala Indonesia.

Dikatakan khas ala Indonesia karena sistim demokrasi perwakilan yang diterapkan di Indonesia bukan sistim presidensial ataupun sistim parlementer murni. Di Indonesia Presiden dipilih langsung oleh rakyat tetapi dia memerlukan persetujuan parlemen untuk meloloskan sebuah rancangan Undang-undang. Tetapi di sisi lain Presiden tidak dapat dijatuhkan oleh DPR.

Tetapi berbeda dari banyak negara yang menganut sistim presidensial, di Indonesia calon presiden hanya dapat dicalonkan oleh partai-partai politik atau gabungan partai politik yang mempunyai 20% dari seluruh jumlah kursi di parlemen. Dan partai yang berhak mendapatkan kursi parlemen adalah partai politik yang berhasil mendapatkan suara minimum 2,5% dari seluruh jumlah pemilih Indonesia yang menggunakan hak pilihnya. Pemilu legislatif 2009 telah memutuskan hanya 9 partai politik yang berhak memperoleh kursi di DPR yaitu Partai Demokrat (150), GOLKAR (107), PDIP (95), PKS (57), PAN (43), PPP (36), PKB (27), GERINDRA (26) dan HANURA (18). Ini membuat pemilihan presiden menjadi sarat dengan proses tawar menawar di antara kesembilan partai politik yang mempunya wakil di parlemen, sesuatu yang biasanya menjadi ciri khas sistim demokrasi parlementer.

Pemilu legislatif 2009 saya anggap sukses meskipun di sana sini ada banyak kebisingan dan suara ketidakpuasan dari partai-partai politik yang dirugikan dalam berbagai tahap pelaksanaan pemilu legislatif tersebut. Tetapi tidak ada satu bukti yang diajukan oleh partai-partai politik tadi yang menunjukkan bahwa pemilu legislatif yang baru lalu telah direkayasa secara sistematis untuk memenangkan satu atau beberapa partai tertentu. Dan yang terpenting, Indonesia telah berhasil melaksanakan salah satu pesta demokrasi terbesar di dunia ini untuk ketiga kalinya secara berturut-turut tanpa adanya tindakan kekerasan antara kelompok-kelompok peserta pemilu.

Bahkan Nirwansyah, salah seorang teman saya yang berprofesi advokat secara obyektif menilai ada catatan perbaikan sitem yang terus menerus terjadi dalam pemilu di Indonesia. Jika tahun 1999 pemilih memberikan suaranya sepenuhnya kepada partai politik untuk menentukan sendiri anggota legislatif yang duduk dengan hak recall sepenuhnya pada partai, maka pada pemilu tahun 2004 pemilih sudah diberi kesempatan melihat calon legislatifnya meskipun keputusan siapa yang duduk di parlemen adalah berdasarkan nomor urut calon yang dibuat partai politik. Dan pada tahun 2009, pemilih sudah diberikan hak untuk menentukan sendiri calon legislatif yang akan duduk di parlemen terlepas dari nomor urut calon anggota legislatif yang disusun oleh partai pengusungnya. Menurut Nirwansyah proses perbaikan ini akan tuntas kalau di masa yang akan datang Indonesia mengadopsi sistim pemilihan parlemen dengan dasar distrik murni.

Bagi saya pemilu legislatif 2009 menghasilkan beberapa kejutan. Di luar dugaan saya Partai Demokrat keluar sebagai pemenang dengan berhasil meraih dukungan 21,703,137 suara atau sekitar 20.85 % dari seluruh suara yang sah yakni 104,099,785 orang (tabulasi selengkapnya lihat di link ini http://indonesiamemilih.kompas.com/tabulasi)

Partai Golkar dan PDIP Perjuangan yang pada pemilu sebelumnya bertengger di urutan pertama dan kedua, tahun ini harus puas turun satu peringkat menjadi urutan kedua dan ketiga di bawah Partai Demokrat.

Keterkejutan saya ialah karena secara umum saya menilai kinerja pemerintahan Presiden Susilo Bambang SBY (SBY) dan wakilnya Jusuf Kalla selama 4,5 tahun terakhir tidak menghasilkan sesuatu yang istimewa dan patut dibanggakan.

Harga-harga bahan pokok meningkat sangat tajam, mutu pendidikan yang merosot pada saat biaya pendidikan semakin mahal, pengangguran yang meningkat terus, krisis listrik yang semakin parah di seluruh negeri dan kemampuan perencanaan pembangunan yang buruk.

Dan yang lebih mengagetkan saya, Partai Demokrat bahkan unggul di Jawa Timur. Padalah di sinilah beberapa desa di Sidoarjo mengalami salah satu tragedi abad ini yang akan tetap dikenang oleh ribuan penduduk yang tidak berdaya menyaksikan desa-desanya tenggelam oleh lumpur gas yang tersembur dari perut bumi akibat kecerobohan kegiatan pengeboran tambang gas bumi oleh salah satu perusahaan yang dimiliki oleh Menteri Aburizal Bakrie. Aburizal Bakri dipercaya banyak orang menjadi salah satu penyokong dana presiden SBY dalam pemilu presiden tahun 2004.

Sedikit yang saya catat sebagai keberhasilan pemerintahan SBY Jusuf Kalla adalah upaya pemberantasan korupsi dan penciptaan perdamaian di Poso, Maluku dan Aceh. Namun untuk itu kredit seharusnya paling tidak harus dibagi dua dengan Jusuf Kalla yang peran dan inisiatifnya sangat terlihat sangat menonjol dalam upaya perdamaian di Poso, Maluku dan Aceh. Sedangkan keberhasilan upaya pemberantasan korupsi kredit juga harus diberikan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi yang selama kepemimpinan Antasari Azhar berhasil mengungkap banyak korupsi yang melibatkan pejabat teras di negeri ini termasuk mantan menteri kabinet RI, mantan Kapolri hingga mantan Gubernur BI dan para Deputinya.


Read the rest of the story?

Wednesday, April 8, 2009

DEMOKRAT, GOLKAR DAN PDIP AKAN BERSAING KETAT



JAKARTA, KOMPAS.com — Seperti sudah diprediksi pada survei-survei sebelumnya, survei Lingkar Survei Indonesia (LSI) empat hari menjelang pemilu juga menguatkan prediksi bahwa pertarungan sengit hanya akan terjadi pada tiga partai. Partai Demokrat, PDI Perjuangan, dan Partai Golkar masih berpeluang untuk saling mengalahkan.

Ketiga partai ini diperkirakan memperoleh suara lebih dari 12 persen dan menduduki posisi sebagai papan atas. Siapa pemenang pada 9 April? Sang juara akan ditentukan oleh empat faktor pada empat hari terakhir menjelang pemilu.


Direktur Eksekutif LSI Denny JA menjelaskan, faktor pertama adalah kemampuan mesin lokal memobilisasi calegnya. "Survei menunjukkan bahwa 30 persen responden memilih caleg dan tidak peduli dengan partai politik. Mesin lokal yang kuat akan lebih menguntungkan dan biasanya dimiliki oleh partai besar," kata Denny saat launching hasil survei, Selasa (7/4) di Jakarta.


Untuk faktor ini, PDI Perjuangan dan Golkar lebih unggul dibandingkan Demokrat. Demikian pula untuk faktor kedua, yaitu kemampuan mesin lokal untuk meminimkan golput di basisnya.
"Diduga, golput akan lebih besar dibandingkan golput pada Pemilu Legislatif 2004. Semakin banyak pendukung sebuah partai yang golput, semakin berkurang kekuatannya di bilik suara," kata dia.


PDI Perjuangan dan Golkar pun diprediksi masih lebih unggul dibandingkan Demokrat. Sebaliknya, untuk faktor ketiga, citra partai, Demokrat dinilai lebih unggul dibandingkan dua rivalnya. Begitu juga untuk faktor keempat berupa efek program BLT.


Sebanyak 18 juta kepala keluarga yang mendapatkan BLT akan menguntungkan bagi partai berasosiasi positif dengan BLT. "Demokrat lebih unggul di citra partai dan BLT. Namun, PDI Perjuangan dan Golkar unggul di mesin lokal dan meminimalkan golput di basisnya," kata Denny.


Survei yang dilakukan terhadap 1.200 responden di 33 provinsi ini masih menyisakan 21 persen responden yang belum menentukan pilihannya. Masa tenang selama tiga hari ini, menurut Denny, akan menentukan negasi suara paling masif.


KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary

Read the rest of the story?

Tuesday, March 31, 2009

EFENDY NAIBAHO DAN KAMPANYE METODE BARU

Oleh: Petrus M. Sitohang


Ada satu hal yang saya amati membuat Pemilu tahun ini berbeda dari pemilu-pemilu sebelumnya yaitu kehadiran internet. Memang pada saat pemilu 2004 atau sebelumnya teknologi internet juga sudah ada, namun belum seluas saat ini.

Teknologi internet dan hasil-hasil ikutannya seperti blog pribadi, situs berita sampai jejaring sosial Facebook membuat kita lebih mudah memperoleh informasi mengenai rekam jejak seseorang.

Salah seorang calon anggota lembaga legislatif (caleg) yang sadar betul akan hal itu adalah Efendy Naibaho, seorang kandidat DPR RI dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) untuk daerah pemilihan Sumatera Utara 1 yang meliputi Medan, Deli Serdang, Serdang Bedagai dan Tebing Tinggi.

Efendy Naibaho adalah seorang wartawan senior yang sudah bekerja di berbagai media masa termasuk majalah berita mingguan Tempo. Saat ini dia adalah anggota DPRD Sumatera Utara.

Yang membedakan Efendy Naibaho dari calon-calon lainnya ialah kemampuannya menggabungkan metode kampanye tradisional seperti tatap muka, kunjungan ke rumah-rumah calon pemilih dan mengikuti acara perkumpulan/paguyuban sosial yang ada di daerah pemilihannya, dia juga aktif memposting kegiatan dan pokok-pokok pikirannya di jejaring sosial Facebooknya.

Efektifitas kampanye menggunakan media internet di Amerika Serikan sudah dibuktikan oleh Barack Obama yang dengan cerdas menggunakan media ini untuk menjangkau para calon pemilih sekaligus penggalangan dana. Seperti kita semua tahu, Barak Obama bukan saja menjadi pemenang dalam perebutan tiket Partai Demokrat bahkan akhirnya mampu mengalahkan saingannya dari Partai Republik John Mc Cain dan berhasil mengukir sejarah tampil sebagai Presiden Amerika Serikat kulit hitam yang pertama.

Apakah kampanye melalui internet akan mampu menolong Efendy Naibaho memenangkan kursi DPR RI dari daerah pemilihan yang dipenuhi dengan nama-nama besar dalam kancah politik Indonesia seperti seniornya di PDIP Panda Nababan dan lain-lain kita akan lihat setelah tanggal 9 April nanti.

Yang jelas ialah dengan memanfaatkan teknologi internet, saya jadi lebih mudah mengenal calon-calon anggota legislatif yang akan mengisi lembaga terhormat dan sangat penting bagi perkembangan Indonesia 5 tahun ke depan. Dari tulisan-tulisannya di jejaring sosial Facebook saya jadi tahu kepedulian Efendy Naibaho yang sangat tinggi pada persoalan pariwisata Danau Toba, masalah anggaran di bidang pendidikan, biaya jasa internet di Indonesia yang masih cukup mahal dan lain-lain. Saya juga jadi tahu gaya bicaranya teratur dan tidak hiperbolik, kemampuan menuliskan pikirannya dengan runtut. Dan saya juga jadi tahu kalau dia sudah mendirikan perpustakaan sendiri.

Dan karenanya saya tidak ragu-ragu untuk merekomendasikannya kepada teman-teman saya yang tinggal di sekitar Medan, Deliserdang, Serdang Bedagai dan Tebing Tinggi untuk memilihnya dalam Pemilu Legislatif pada hari Kamis tanggal 9 April 2009 nanti.

Selamat berjuang Pak Efendy. Semoga sukses.

Read the rest of the story?

Friday, March 6, 2009

TENTANG INTEGRITAS DAN ANGGOTA DPRD KITA

Gedung DPRD Tanjungpinang


Oleh: Petrus M. Sitohang

Dalam sebuah sessi internal Gabungan Komisi DPRD Tanjungpinang untuk membahas RAPBD Tanjungpinang 2009 awal bulan Februari yang lalu, para anggota dewan tersebut berdebat mengenai pengertian kata integritas. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 lebih. Saya berada di sana sebagai tenaga konsultan yang tugasnya membantu DPRD untuk memfasilitasi proses pembahasan RAPBD.

Hampir semua anggota sudah menyampaikan pendapatnya tetapi Tahi Lumban Tobing, seorang anggota yang sudah cukup berumur dari Partai Patriot Pancasila, pensiunan anggota periwira intelijen Kodim pada masa orde baru merasa tidak puas dengan penjelasan teman-temannya. Dia kemudian meminta kesepakatan dari teman-temannya untuk meminta saya memberikan pendapat saya soal makna kata integritas. Sebagaimana biasanya, permintaan kesempatan bicara atau usul TL Tobing, yang oleh teman-temannya sesama anggota dewan Kota Tanjungpinang biasa dipanggil babe ini, langsung dikabulkan oleh pimpinan sidang saat itu yaitu Raja Mansyur Razak (Golkar) , Asep Nana Suryana (PDIP), M. Ali (PKS) dan Sumarno (PDK).

Saat pimpinan rapat meminta saya untuk menyampaikan pendapat, sebenarnya saya merasa sedikit kaget dan tidak siap. Mengapa? Karena hal memberikan definisi atau pengertian sebuah kata sebenarnya bukan bidang keahlian saya. Saya hanyalah seorang akuntan yang diminta dan dibayar dengan APBD untuk memberikan bantuan berupa referensi peraturan-peraturan pemerintah yang berhubungan dengan pokok-pokok pengelolaan keuangan daerah dan membantu membuat kertas kerja untuk merekam kinerja pembahasan yaitu perubahan mata anggaran yang disepakati baik per Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) maupun perubahan RAPBD secara keseluruhan bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) dan membuat laporan pembahasan Gabungan Komisi atau Panitia Anggaran DPRD. Lagipula selama hampir tiga tahun mendampingi mereka, saya belum pernah melihat mereka terlibat pada diskusi mengenai topik yang satu ini meskipun pimpinan DPRD diwajibkan untuk membuat Pakta Integritas setiap kali saat menyampaikan laporan kegiatannya selaku pimpinan dewan.

Tetapi karena sejak lama saya sudah sering membaca mengenai berbagai tulisan mengenai kata yang satu ini dan bahkan bidang profesi akuntan yang saya geluti memang banyak memberikan bekal mengenai pengertian dan penerapan integritas dalam menjalankan profesi akuntan saya segera membetulkan posisi duduk saya yang sebelumnya pasif dan menghidupkan pengeras suara di depan saya. Saya memulai dengan berkata ini kepada mereka.

"Pimpinan sidang dan bapak-bapak serta ibu anggota dewan yang saya hormati, terimakasih atas kesempatan yang bapak berikan kepada saya untuk menjelaskan mengenai pengertian kata yang bagi saya sangat penting maknanya ini."

Saya memperhatikan bahwa mereka semua sungguh-sungguh menyimak pembicaraan saya. Itu bukan saja membuat saya merasa senang tetapi juga merasa tertekan karena saya kawatir bahwa jawaban saya pada akhirnya tidak akan memuasan mereka semua.

Lalu saya melanjutkan penjelasan saya tentang kata integritas dengan mengemukakan pengalaman pribadi ketika hendak dijamu makan malam oleh seorang atasan saya seorang Singapura keturunan India bernama Giles Miranda di sebuah tempat bernama Clark Quay di Singapura. Waktu itu Giles menawarkan untuk membawa saya makan malam di sebuah restoran India favorit keluarganya. Seketika saya mulai resah. Di satu sisi saya tidak ingin mengecewakannya karena menolak untuk mencicipi makanan kesukaannya. Di sisi lain saya juga tidak ingin berpura-pura menyukai masakan India padahal mulut dan lidah saya memang tidak bisa menerima ramuan khas India seperi bau kayu manis dan karinya. Tetapi tanpa membuang-buang waktu saya langsung katakan kepadanya begini, "Maaf pak Giles, saya tidak biasa makanan India sebelum ini. Kamu tahu di Indonesia tidak mudah menemukan restoran India walau saya yakin ada beberapa. Saya ini orang yang sangat fleksible dalam banyak hal tetapi sayangnya saya adalah seorang yang sangat konservatif soal makanan. Kelak kamu akan tahu bahwa saya mengatakan yang sebenarnya. Untuk malam ini bisakah kamu bawa saya ke salah satu restoran Cina?".

Kekawatiran saya ternyata tidak terbukti. Giles tidak keberatan dan hubungan kerja kami selanjutnya tidak terganggu hanya gara-gara saya menolak makanan favoritnya. Bahkan dari seorang teman saya pernah dengar bahwa dia memuji kejujuran saya sejak pertama kali bertemu dia.

Lalu saya katakan kepada para anggota dewan yang serius mendengarkan itu bahwa seorang yang memiliki integritas adalah yang konsisten mengatakan pendapatnya dengan siapapun dia bertemu dan tidak berubah-ubah hanya karena lawan bicaranya berbeda. Memiliki integritas berarti memiliki keutuhan sikap diri atas semua situasi yang berbeda.Lalu saya akhiri uraian saya dengan memberikan kesimpulan begini, "Walau kata integritas digunakan dalam konteks pribadi atau organisasi atau bahkan negara, unsur terpenting dari kata integritas adalah adanya kejujuran. Sikap mengedepankan popularitas di hadapan audiens atau konstituen untuk meraih tujuan jangka pendek bukanlah wujud dari integritas diri."

Dan sekali lagi saya bersyukur bahwa jawaban saya yang gamblang itu tidak membuat satupun dari mereka merasa tersinggung dan bahwa saya telah mencoba menunjukkan integritas pekerjaan saya selaku staff ahli kepada para anggota Dewan yang terhormat itu.


Berpose bersama beberpa anggota DPRD Tanjungpinang. Dari kiri ke kanan: Sukandar (PDIP), Fauzy Saleh (Golkar), Petrus M. Sitohang dan Pipin Hasibuan (Demokrat)


Read the rest of the story?